PANDEMI COVID-19 DAN MASA DEPAN PENDIDIKAN DI PEDESAAN

  • Bagikan

Oleh: Gusty A. Haupunu. Pemuda Desa Tinggal Di Soliu, Kec. Amfoang Barat Laut. 

Sejak 2019 saat Dunia dihantam oleh virus corona, begitu banyak persoalan yang dirasakan oleh berbagai elemen masyarakat di Dunia. Persoalan itu terkait dengan Kebiasaan masyarakat saat bekerja, dimana kebiasaan masyarakat yang dulunya bekerja tanpa pembatasan, harus berubah cara kerjanya dengan pembatasan jam kerja serta menjaga jarak demi memutuskan mata rantai penyebaran virus corona.

Dari perubahan pola kerja tersebut mutlak menghadirkan berbagai dampak dalam kehidupan bermasyarakat diantaranya dampak sosial, politik, dan budaya.

Dampak sosial tersebut berupa pola hidup masyarakat yang biasanya hidup berdampingan, bersama dan bergotongroyong harus dihentikan dan dialihkan dalam bentuk yang baru yaitu hidup dalam pola individualistik. Kemudian dalam bidang politik harus menerima keadaan dimana jabatan-jabatan politik di tingkat Desa tidak dapat melaksanakan pemilihan hingga beberapa tahun. Sedangkan dalam kehidupan budaya biasanya saat bertemu kita saling memberikan salam dengan berjabatan tangan harus dirubah dalam bentuk lain yang disebut dengan salam Covid. Tidak hanya dalam pola bersalaman tapi pentas budaya dan urusan budaya disetiap daerah pun ikut terdampak.

Dari ketiga aktifitas ini yang saat ini kita rasakan bersama-sama, dilain sisi ada yang lebih dikorbankan yaitu kehidupan para buruh yang terpaksa harus menerima pil pahit dalam bentuk PHK (pemutusan hubungan kerja). Kondisi ini memang sangat menyulitkan kehidupan kaum buruh. Dengan PHK pengangguran bertambah, dengan menjaga jarak manusia dibentuk untuk hidup dalam pusaran individualistik, dengan pembatasan sosial, budaya menjadi punah, dengan pembatasan kegiatan pemerintahan pemimpin yang memiliki catatan buruk terus melanjutkan kepemimpinanya, bahkan kondisi yang paling menyakitkan ialah kondisi ekonomi keluarga yang semakin memprihatinkan.

Melalui gambaran ini dapat kita sebutkan bahwa Dunia tidak ada dalam kondisi yang baik secara khusus di Indonesia sebagai Negara kita. Tentu semua yang digambarkan ini telah kita rasakan secara bersama.

Melihat perubahan yang terjadi saat ini dimana semuanya mengalami kelumpuhan yang sangat fatal disini saya ingin mengarahkan pandangan kita sejenak untuk melihat masa depan Indonesia dengan kondisi pendidikan saat ini. Secara keseluruhan daerah di Indonesia saat pandemi Covid-19 banyak sekolah yang dilihat dari segi sarana dan prasarananya mampu beradaptasi dengan perubahan pembelajaran masa pandemi, namun ada beberapa daerah di Indonesia terpaksa harus menerima kenyataan buruk oleh karena dukungan sarana dan prasarana yang tidak memadai.

Di masa pandemi dengan adanya pembatasan sosial masyarakat, dalam satuan Pendidikan hal yang harus di lakukan adalah menerapkan model pembelajaran daring atau dalam jaringan. Model pembelajaran ini didedikasikan untuk Guru dan Murid dapat berinteraksi melalui jaringan atau pembelajaran online antara Guru dan Murid. Model pembelajaran ini akan efektif bila sebuah daerah telah memiliki jaringan telekomunikasi yang baik.

Saat ini bila kita melakukan survei kecil-kecilan di daerah pedesaan ternyata jaringan telekomunikasi belum dibangun secara merata di daerah-daerah pedesaan, hal inilah yang membuat sekolah-sekolah di pedesaan sulit beradaptasi dengan model pembelajaran dimasa pandemi.

sebagai contoh sekolah-sekolah di pedesaan yang sulit menerapkan model pembelajaran di masa pandemi adalah Amfoang. Saat virus ini menyerang Indonesia pada tahun 2019 lalu banyak sekolah di perkotaan yang tidak terganggu dalam proses pembelajarannya karena fasilitas sekolah dan layanan internet dapat diakses dengan baik oleh peserta didik. Sedangkan di wilayah pedesaan (Amfoang) sulit dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran karena tidak di dukung dengan layanan internet.

Saat pandemi metode pembelajaran di Amfoang menerapkan metode pembelajaran luring (luar jaringan) melalui metode ini Guru-Guru di Amfoang selalu mengantarkan soal dan materi ke setiap peserta didik untuk di kerjakan di rumah. Salain mengantarkan soal dan materi ada beberapa sekolah yang membangun posko belajar di setiap desa untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Namun dari kedua metode pembelajaran ini memiliki banyak kendala seperti Guru kesulitan dalam menjangkau murid-murid nya di rumah dan di Posko, kemudian waktu mengajar tidak efektif sebab sehari seorang Guru harus mengajar mengelilingi beberapa rumah dan juga posko belajar yang jarak tempuh nya 4 hingga 6 Km. Dengan kondisi ini maka pembelajaran luring belum mampu menghadapi perubahan pembelajaran saat masa pandemi di Pedesaan.

Untuk itu melalui pengamatan kita saat ini terkait dengan ancaman virus corona yang terus meningkat angka posesif nya, maka respon cepat dari setiap kementerian terkait,dinas terkait serta pemerintah Pusat dan daerah segeranya membangun jaringan telekomunikasi disetiap daerah khusus nya wilayah pedesaan seperti Amfoang, agar pelaksanaan pembelajaran di Pedesaan bisa disesuaikan dengan situasi saat ini.

Mempercepat pembangunan infrastruktur langit di wilayah terpencil juga sejalan dengan program unggulan Jokowi-Ma’Ruf, sebab target rezim ini adalah membangun sistem pemerintahan yang berbasis digitalisasi.

Bila sepanjang pandemi ini tidak secepatnya membangun infrastruktur langit di wilayah Pedesaan oleh pemerintah pusat dan daerah maka masa depan pendidikan di pedesaan dipastikan memburuk bila pandemi ini tidak berakhir.

Ket Foto: Di ambil disalah satu Sekolah di Pedesaan tepatnya SD N Honuk 2 Kec. Amfoang Barat Laut Kabupaten Kupang, Provinsi NTT. Sebagai informasi Lokasi Sekolah tersebut hingga saat ini, belum ada jaringan listrik dan jaringan telekomunikasi. Foto di abadikan pada tahun 2018 sebelum pandemi Covid-19.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Bagikan