MENDORONG SISTEM PENDIDIKAN BERBASIS PERSOALAN RAKYAT

  • Bagikan
Potrer anak-anak sekolahan

Sepanjang sejarah pendidikanlah yang mampu menghasilkan peradaban umat manusia di kolong langit. Melalui pendidikan kita mengenal dua macam masa peradaban manusia yaitu masa sejarah dan prasejarah. Tanpa pendidikan mustahil masa ini dapat diwujudkan oleh manusia.

Pada masa prasejarah yang ditandai dengan ketidakmengenalnya tulisan oleh manusia maka kehidupan dimasa itu manusia hanya menjadikan alam sebagai ruang untuk mempertahankan hidupnya berupa meramu hasil hutan dan berburuh. Sedangkan pada masa sejarah yang ditandai dengan pengenalanya manusia terhadap tulisan maka pengetahuan manusia mulai berkembang. Walaupun pada masa sejarah pendidikan belum dijalankan sebagaimana mestinya namaun proses mengenal tulisan bagian dari proses pendidikan.

Melalui tahapan perubahan ini maka manusia sudah mulai berkembang dengan menghadirkan segala inovasi dan beragam teknologi buah dari proses pendidikan. Munculnya berbagai inovasi dan pengetahuan manusia atas penguasaan IPTEK, dapat dibentuk melalui lembaga-lembaga formal yang dikembangkan oleh sebuah Negara.

Melalui lembaga-lembaga formal ini maka struktur pembelajaran dapat diatatur dengan baik sesuia sistem pembelajaran yang dikembangkan oleh setiap Negara. Misalnya di Indonesia awal dari pembentukan sekolah, kita mengenal soal politik etis yang dikembangkan oleh Kolonial Belanda yang didalamnya terdapat pengembangan pendidikan melalui sekolah-sekolah yang dibangun oleh kaum penjajah.

Pada masa pembangunan sekolah yang dikembangkan oleh kaum penjajah, sistem yang diterapkan pada masanya hanya berorientasi pada pembentukan pengetahuan dasar manusia berupa pembentukan pemahaman baca, tulis dan menghitung. Tiga pengetahuan dasar manusia ini dibentuk oleh kaum penjajah untuk mendapatkan tenagah kerja berupah murah untuk dipekerjakan di perusahaan milik kaum penjajah.

Pengembangan sistem pembelajaran yang terbatas ini dimaksutkan oleh kaum penjajah agar para peserta didik bumi putra tidak memahami berbagai hal termasuk memahami karakter kaum penjajah yang sementara menjalankan misi penjajahan mereka. Kondisi ini berjalan hingga berpuluh-puluh tahun lamanya tanpa ada perlawanan yang mendasar dari kaum bumi putra, walaupun pengetahuan mereka suda ada dalam hal membaca menulis dan berhitung.

Situasi ini berjalan terus dan setiap pelaksanaan pendidikan penuh dengan syarat diskriminatif dengan membatasi setiap orang dalam mengenyam pendidikan. Model penerapan sistem pendidikan dengan syarat diskriminatif itu Artinya Orang-orang yang memiliki status sosial dalam masyarakatlah yang berhak mendapatkan pendidikan. Sedangkan yang tidak memiliki status dalam masyarakat mereka tidak diijinkan untuk bersekolah.

Bagi kaum penjajah bangsawanlah yang berhak disekolahkan karena bangsawan pada masa penjajahan mendapat tempat yang istimewa dari kaum penjajah sebab watak bangsawan dan watak kolonial sama-sama menjajah. Sedangkan rakyat jelata tidak boleh diijinkan untuk bersekolah sebab objek penindasan dalam pandangan penjajah tidak boleh disadarkan memalui pendidikan agar ketidaktahuan mereka dapat dimanfaatkan oleh kaum penjajah untuk tetap memeras tenaga mereka demi akumulasi modal. Pada masa itu kaum jelata hanya mendapatkan porsi pendidikan dasar berupa pemahaman baca tulis dan menghitung.

Berdasarkan corak pendidikan yang dibangun oleh kaum penjajah pada masanya bila kita sandingkan denga  model dan corak sistem pendidikan yang dikembangkan oleh negara saat ini apakah sejalan dengan sistem pendidikan kolonial ataukah berlawanan dengan sistem pendidikan kolonial??? Melalui analisis sederhana dengan menetapkan kurikulum pendidikan sebagai bahan analisis ternyata penerapan sistem pembelajaran bangsa kita melalui kurikulum pendidikan juga tidak jauh berbeda dengan sistem pendidikan yang dikembangkan oleh kaum penjajah, yaitu sama-sama menghindari kajian terhadap persoalan rakyat.

Dari kesamaan kedua sistem tersebut maka Kritik pertama yang perlu diajukan dalam analisis ini adalah model sistem pendidikan kita yang diimplementasikan melalui satuan pembelajaran disekolah dan Universitas, lebih condong pada analisis dan penilaian terhadap penguasaan teori kalsik yang jauh dari persoalan masyarakat.

Pokok persoalan yang dapat dikemukakan bahwa implementasi sistem pendidikan kita jauh dari analisis persoalan masyarakat dapat kita temui dari setiap buku paket pembelajaran yang setiap indikator pembelajaranya tidak mengkafer berbagai persoalan masyarakat. Buku-buku yang dicetak untuk diajarakan bagi para peserta didik hanya difokuskan pada teori klasik yang pemanfaatanya hanya terlaksana saat peserta didik itu ada dalam satuan pendidikan tertentu. Namun setelah peserta didik itu selesai dan keluar dari sebuah lembaga pendidikan ilmu yang diperoleh tidak mampu di implementasikan saat peserta didik itu ada didalam ruang-ruang kemasyarakatan.

Model sistem pendidikan inilah yang menurut hemat saya tidak boleh dikembangkan lagi karena setiap persoalan rakyat akan  diabsenkan dari analisis ilmiah dalam ruang akademik. Bagi saya setiap sistem pendidikan yang patut dikembangkan adalah model sistem pendidikan yang mampu menganalisis setiap persoalaan rakyat yang saat ini dialami oleh Bangsa kita. Hal ini bila kita berkaca dari pengalaman sejarah ternyata para pejuang kemerdekaan terpaksa harus menghadirkan pendidikan alternatif diluar dari sistem pendidikan kolonial demi membentuk kesadaran kritis kaum bumi putra untuk mengkaji sebab-sebab persoalan bangsa dan masyarakat dari ketertinggalanya. Alhasil dari pembentukan pendidikan alternatif ini maka pengetahuan kaum bumi putra terhadap persoalan rakyat dapat diketahui oleh mereka dan perjuangan mereka dalam menentang penjajah berhasil dilakukan.

Berdasarkan pada konteks sejarah maka pendidikan kita harus kita dorong untuk membentuk sebuah sistem pendidikan yang berbasiskan persoalan rakyat dengan menetapkan berbagai indikator pembelajaran dari setiap mata pelajaran yang mengarah pada basis persoalan rakyat. Misalnya persoalan kemiskinan, persoalan korupsi, persoalan pengelolaan SDA, persoalan pengangguran dan lain sebagainya yang merupakan persoalan rakyat, sistem pendidikan melalui kurikulum harus mengkafer setiap persoalan tersebut untuk diimplementasikan kedalam setiap mata pelajaran yang cocok dengan persoalaan yang dimaksut untuk diajarkan kepada setiap peserta didik. Artinya setiap terapan materi pembelajaran dari setiap mata pelajaran harus menganilis setiap persoalan yang dimaksut.

Berangkat dari pengalaman memang hal-hal ini sudah dilakukan oleh beberapa guru tertentu namun tidak efektif karena arah pengajaran yang berbasis persoalan rakyat dengan memanfaatkan disiplin ilmu tertentu selalu dibenturkan dengan tuntutan kurikulum yang lebih mengarah pada tuntutan penguasaan teori klasik diluar dari tuntutan persoalan rakyat. Dari situasi inilah maka setiap generasi yang tumbuh dan berkembang disetiap ruang dan waktu akan selalu absen dari setiap persoalan rakyat sebab pembentukan setiap pengetahuan peserta didik saat dibangku sekolah tidak pernah diajarkan hal-hal demikian. Bahkan orang-orang yang telah menyelesaikan pendidikanya dan mendapatakan jabatan dalam struktur pemerintahan merekalah yang menciptakan persoalan rakyat melalui sistem dan regulasi yang mereka jalankan.

Bila hal-hal semacam ini terus dikembangkan oleh Negara maka sejatinya pendidikan yang berperan penting dalam mencetuskan peradaban manusia kearah yang lebih baik akan kehilangan kesejatiannya. Untuk itu maka membangun sistem pendidikan yang berbasiskan persoalan rakyat harus didorong dan dilaksanakan oleh Negara demi persatuan bersama dalam menggulingkan setiap persoalan rakyat dan sekolah atau Universitas merupakan benteng dari setiap analisis persoalan rakyat.

Penulis: Gusty A. Haupunu, Guru di SMA N I Amfoang Barat Laut

  • Bagikan