MANIFESTASI NAKETI ORANG AMFOANG

  • Bagikan

Oleh : Gusty A. Haupunu, Guru di SMA N I Amfoang Barat Laut

Manusia dalam kodratnya merupakan mahluk sosial yang selalu berinteraksi dengan sesama manusia. Kodrat manusia sebagai mahluk sosial tidak sebatas berinteraksi dengan sesama manusia saja, melainkan interaksi manusia juga berlangsung atas kehidupan lain misalnya hewan, tumbuhan dan alam semesta. Bahkan interaksi manusia yang paling tertinggi ialah interaksi manusia dengan Tuhan.

Setiap interaksi ini tidak berjalan dengan seyogyanya terkadang interaksi ini dapat menimbulkan persoalan dan konflik.
Interaksi manusia yang menghasilkan persoalan disebabkan dari berbagai faktor misalnya, penyalagunaan wewenang dalam tata pemerintahan, watak pimpinan yang bermental feodal, kecemburuan sosial, ego, pembagian hak yang tidak setara, perebutan tanah dan lain sebagainya.

Dari berbagai faktor terbentuknya persoalan, akan terjadi didalam kelompok masyarakat hingga kehidupan berumah tangga. Misalnya, persoalan antara rakyat dan penguasa, Persoalan antar suami istri, anak-anak, suku, agama, golongan, ras, organisasi, bahkan perselisihan antar negara.

Dari beragamnya persoalan ini bisa menimbulkan konflik yang berkepanjangan hingga memakan korban bila persoalan tersebut tidak dapat diatasi.
Berragamnya persoalan ini, terjadi diseluruh kehidupan manusia dan terdistribusi disetiap belahan bumi, termasuk kehidupan manusia di wilayah Amfoang.

Dari setiap persoalan yang terjadi disetiap wilayah masing-masing wilayah akan menemukan cara dan pendekatannya sendiri untuk meredam setiap persoalan yang terjadi.
Cara dan pendekatan dari setiap wilayah untuk menyelesaikan berbagai persoalan juga beragam. Ada yang menggunakan musawara, ada yang menggunakan gencatan senjata, ada yang menggunakan ritual adat, ada pula yang menggunakan ibadah.

Semua cara dan pendekatan yang digunakan merupakan bentuk tradisi yang telah dianut oleh setiap daerah atau wilayah.

Secara khusus dalam hal tradisi, Orang Amfoang telah menghasilkan sebuah cara dan pendekatan khas untuk meredam berbagai persoalan yang terjadi di dalam kehidupan orang Amfoang. Cara khas dan pendekatan Orang Amfoang dalam menyelesaikan setiap persoalan adalah Naketi.

Naketi merupakan tradisi khas Orang Amfoang yang digunakan untuk menyelesaikan sebuah persoalan. Orang Amfoang meyakini melalui Naketi setiap persoalan akan tuntas diselesaikan. Model Naketi orang Amfoang adalah keterbukaan. Dari keterbukaan setiap perselisihan akan diungkapkan secara tuntas tanpa meninggalkan dendam dan amarah.

Tradisi Naketi orang Amfoang selalu digunakan dalam menyelesaikan persoalan keluarga. Tidak digunakan untuk menyelesaikan persoalan lain seperti persoalan dalam tata pemerintahan. Dari setiap persoalan yang diselesaikan dengan tradisi naketi, selama ini tidak ada satupun masalah yang berakhir di jeruji besi semuanya diselesaikan dengan baik, dan pihak-pihak yang bermasalah tidak ada satupun yang dirugikan.

Dengan keberadaan tradisi Naketi sebagai bentuk tradisi Orang Amfoang dalam menyelesaikan setiap persoalan yang terjadi, kemudian kita bertanya, Apakah tradisi Naketi orang Amfoang hanya sekedar menyelesaikan persoalan keluarga??? Ataukah, tradisi Naketi orang Amfoang juga dapat di pakai dalam penyelesaian persoalan lain seperti persoalan dalam tata pemerintahan??? Bila tradisi naketi orang Amfoang dapat dipakai dalam persoalan lain seperti persoalan tata pemerintahan, maka tradisi Naketi orang Amfoang harus dimanifestasikan ke setiap persoalan kehidupan.

Manifestasi Naketi orang Amfoang

Secara umum Naketi orang Amfoang selalu digunakan dalam menyelesaikan persoalan keluarga. Misalnya Naketi saat seorang istri akan melahirkan, naketi saat sakit penyakit menerpa kehidupan keluarga, Naketi saat perkelahian suami istri, naketi saat perkelahian antara anak, Om, tanta, menantu, dan lain sebagainya, yang basis persoalan nya hanya seputar persoalan keluarga.

Bila kita melihat bentuk tradisi naketi Orang Amfoang saat menyelesaikan persoalan yang terjadi didalam lingkungan keluarga, model dan cara naketi orang Amfoang, selalu mengharuskan kepada setiap pihak yang bermasalah untuk mengeluarkan setiap persoalanya masing-masing untuk diketahui secara bersama oleh pihak yang bertugas dalam memediasi persoalan yang dilakukan oleh setiap pihak.

Dari cara dan metode orang Amfoang dalam menyelesaikan setiap persoalan melalui tradisi naketi, bila dianalisis secara radikal, cara dan metode orang amfoang tersebut layak dimanifestasikan kedalam penyelesaian persoalan tata pemerintahan saat ini. Terkhususnya tata pemerintahan desa.
Kelayakan naketi untuk dimanifestasikan kedalam setiap penyelesaian persoalan tata pemerintahan desa, dilandasi dari keadaan pemerintahan desa saat ini, yang model pemerintahnya selalu mendekatkan budaya sebagai jalan penyelesaian persoalan.

Sayangnya tradisi Naketi orang Amfoang saat digunakan oleh pemerintahan desa hanya difungsikan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat desa. Tidak digunakan sebagai alat penyelesaian persoalan dalam tata pemerintahan desa.

Oleh karena tradisi naketi selalu dilepaskan dalam urusan persoalan pemerintahan desa maka, segala penyelewengan kekuasaan pemerintahan Desa tidak dapat diselesaikan secara bersama oleh masyarakat Amfoang. Buktinya sejak dana desa diluncurkan oleh pemerintah pusat sejak 2015, urgensi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat desa di wilayah Amfoang selalu menuai persoalan.
Persoalaan-persoalan tersebut misalnya ketidaktransparansi pengelolaan dana desa, mangkraknya berbagai pembangunan di desa, rendahnya pertumbuhan ekonomi masyarakat, ketidakoptimalnya pengelolaan potensi desa (pertanian, peternakan, dan perikanan), dan lainsebagainya.

Melalui berbagai persoalan yang timbul dalam tata pemerintahan desa tersebut bila dibiarkan maka persoalan tersebut akan ditindaklanjuti melalui jalur hukum yang berlaku. (Bila ada keseriusan dari lembaga-lembaga terkait maka oknum yang bermasalah akan dihukum sesuai tatacara pengadilan yang berlaku, dan akhir dari penyelesaian jalur ini akan tertujuh dalam dunia penjara.

Dalam tata cara penyelesaian persoalan melalui jalur ini, memang bertujuan untuk memberikan efek jera bagi yang Bermasalah namun tradisi penjara bagi saya, belum mampu menuntaskan setiap persoalaan dalam tata pemerintahan. Apalah arti penjara bila perubahan tidak terjadi, dan pertumbuhan ekonomi rakyat gagal bertumbuh.

Untuk itu berdasarkan tradisi Orang Amfoang saat menyelesaikan persoalan keluarga dengan tradisi Naketi yang tidak pernah berakhir dalam penjara, maka setiap persoalan pemerintahan desa, tradisi Naketi harus dimanifestasikan. Dengan tradisi Naketi yang dimanifestasikan ke setiap persoalan pemerintahan desa maka segala penyelewengan kekuasaan dan penyalahgunaan pengelolaan dana desa akan diselesaikan secara terbuka, dan pihak-pihak yang menyalagunakan kekuasaan akan terbukapula dalam menyampaikan kesalahanya didepan masyarakat. Bila ini terjadi maka hal-hal buruk dalam tata pemerintahan desa akan muda diselesaikan. Dan akhir dari semua penyelesaian persoalan semua kita akan kembali dan membangun dengan penuh cinta kasih.

Tulisan ini sudah di terbitkan pada laman: victorynews.id, pada 1 Maret 2021.

  • Bagikan