Hujan Berkat Atau Bencana

  • Bagikan

Tanpa hujan maka kekeringan akan melanda, tapi semakin banyak hujan bencana menerpa. Begitulah kira-kira cara manusia memahami alam yang penuh dengan pertentangan antara satu sama lainnya. Di sisi lain manusia berkeinginan supaya alam menyediakan keseimbangan namun itu hanya pikiran manusia, alam memiliki pikirannya sendiri. Mungkin saja bagi manusia hujan yang banyak itu malapetaka tapi tidak untuk alam. Alam akan berjalan sesuai hukum-hukumnya manusia hanya mencoba menguraikan dan menerjemahkan hukum alam berdasarkan peristiwa yang terjadi.

Joni duduk termenung memandangi kebunnya yang menghijau itu. Tanaman padi yang sudah mulai mekar itu tandanya sebentar lagi akan timbul bulir-bulir padi, terlihat mukanya suram penuh haru akibat dompetnya yang sudah mulai menipis karna sudah hampir tiga Minggu hujan pun tak datang. Harapannya kian sirna karna setiap tiga hari sekali harus menyedot air di sumurnya untuk menyiram tanaman padi miliknya. Harapannya Minggu pertama berlalu pasti hujan akan turun tapi nyatanya tidak juga, masuk Minggu ke dua pun hujan tak datang. Ketika malam tiba, ia bersama istri cantiknya bergumul di atas meja makan saat makan malam tiba, dengan penuh harap ia bergumam “semoga esok hari hujan bisa turun”. Mendengar itu, istrinya pun menyambung “mudah-mudahan”. Istrinya yang tidak banyak bicara itu, hanya berusaha menenangkan suaminya yang galau sepanjang hari akibat hujan yang tak kunjung datang.

Tak terasa memasuki Minggu ke tiga dan sebentar lagi memasuki bulan April ini, hujan pun tak datang juga, kegelisahan Joni semakin menjadi-jadi. Uang yang harus dikeluarkan pun sudah mencapai ratusan hingga jutaan ribu. Setiap kali sedot membutuhkan bensin lima liter dan itu pun tidak semua tanaman padinya mendapatkan air sehingga dia harus beli lima liter lagi untuk menyiram di hari yang lain. Harga bensin eceran di kampungnya berfariasi ada yang sepuluh ribu per liter dan dua belas ribu per liter karna kemarau yang panjang membuat banyak penjual bensin eceran yang keoalahan pasokan. Karna kondisi ini maka harga bensin pun mulai berangsur-angsur naik, hingga ke angka lima belas ribu per liter. “Mencari untung dalam kesempitan”. Gumam Joni.

Banyak ongkos yang dia keluarkan tanpa ragu-ragu. Intinya tahun ini tak boleh gagal, tekat ini yang dipegang Joni ketika harus menyedot air sumurnya. Dia berpikir lebih baik lempar satu juta untuk tanaman padinya dari pada harus beli beras tahun ini. Sementara harga beras dibulan sebelum panen tiba semakin menjadi-jadi, dari sepuluh ribu naik menjadi dua belas ribu lima ratus per kilo. Ako tetangga Joni karena gagal panen yang dialaminya tahun kemarin lebih parah lagi dia harus beli beras sejak dari bulan Agustus. Dalam kesempatan yang berbeda Ako mengunjungi Joni teman karibnya itu, dan mulai bercerita soal pengalaman kehidupan mereka.  Joni mendengar Ako berkisah, bahwa dia tidak bisa menabung karna setiap harinya dia beli beras. Anggota keluarganya enam orang dalam rumah itu ternyata beban yang berat. Nasibnya berbeda dengan Joni yang persediaan makanannya cukup sampai panen tiba. Ako hanya pasrah dan mengagungkan Joni, bagi Ako dia hanya berharap semoga bulan ini berlalu hujan bisa turun. Dia tidak berbuat apa-apa hanya pasrah karna uang yang dimiliki semata-mata beli beras tak cukup bila harus beli bensin. Dalam kondisi seperti ini dia menahan diri untuk meminjam uang karena pasti dia akan kesulitan untuk mengembalikan. Joni tak banyak kata untuk membantu sahabatnya itu, lagi pula Joni bukanlah tipe orang yang lincah mencari uang. Si Ako punya profesi tukang bangunan sehingga dia mampu cari uang. Sementara Joni hanya petani biasa yang hari-harinya berurusan dengan parang dan tembilang. Untungnya dia punya beberapa ternak sehingga ketika sudah krisis dia menjual ternaknya.

Kopi dan rokok menemani keduanya dalam obrolan sore itu. Kepulan asap menghiasai keduanya, tarikan demi tarikan asap 153 rokok favorit mereka karna murah dan tahan lama itu menemani perbincangan mereka. Tak terasa matahari telah pulang ke tempatnya suasana semakin remang, ayam-ayam sudah pada naik ke pohon, burung-burung terlihat beterbangan ke arah pulang. Kini tinggallah mereka berdua ditemani suara-suara kodok yang menggelegar, bersahut-sahutan tatkala nyanyian kanon memecah angakasa, mungkin saja teriakan minta hujan. Ako tengah menikmati kopinya dan juga rokoknya itu, sambil bergurau “jika manusia meminta saja tak didengar apalagi kau kodok?”. Mendengar itu, Joni pun tertawa sambil membalas “mungkin saja bisa asalkan Tuhan mereka mendengar” Joni berpikir bahwa binatang  seperti kodok tentu punya Tuhannya sehingga mereka teriak itu seolah-olah doa yang dipanjatkan pada Tuhan. Ako hanya mengangguk tanda setuju dengan analisa Joni. Makin lama semakin gelap mengantar mereka pada perpisahan. Ako harus kembali ke rumahnya sementara Joni membereskan gelas dan kursi lalu dibawa masuk ke rumahnya.

Hari-hari pun berlalu, tak ada tanda-tanda mendung di langit. Hingga masuk bulan April, uang dikantong Joni sudah menipis, bibirnya kering karna sudah dua hari tak merokok, emosinya kadang meluap-luap. Istrinya tidak banyak kata takut pada suaminya yang stres itu karna tak merokok. Rokok seumpama obat penenang jiwa yang depresi. Bagi yang bukan perokok pasti tak percaya tapi itulah kenyataannya setiap orang punya pribadi yang berbeda.

April yang baik yang ditunggu orang Desa lainnya pun tiba. Cuaca hari itu berubah dari sebelumnya. Angin selatan pun bangkit dari tidur panjangnya, berhembus melewati setiap jengkal wilayah itu. Dan gerimis pun mengikuti arah tiupnya. Oh …. Betapa indahnya, Joni tersentak dari lamunan panjang di samping rumahnya itu. Hari ini hanya gerimis tapi sudah baik bagi Joni dan warga sekitar. Tentunya juga Ako.

Hari-hari berikutnya hujan pun turun, begitu derasnya. Bagi Joni hujan ini menyelamatkan tanamannya pun dompet tentunya. Namun Ako yang harus mengeluh. Padinya yang sudah tiba mau panen terhambat akibat hujan yang semakin hari semakin menjadi itu. “Hujan ini semakin buruk bagi petani”. Renung Ako. Kondisi ini semakin menjadi-jadi, hujan tak pernah redah bagi Joni tak masalah, karna padinya memang belum siap panen, tapi bagi warga lainnya termasuk Ako yang menanti panen tentu tidak memerlukan hujan yang banyak seperti ini. Justru semakin banyak hujan akan membuat padinya rusak. Ada warga yang sementara panen akhirnya berhenti dan pusing bukan kepalang mencari cara amankan padi mereka sehingga tidak basah tapi apa yang terjadi hujan semakin menjadi disertai angin yang kencang genangan air tak terhindari membuat padi yang sudah panen tumbuh kecambah.

Suatu konflik yang ditimbulkan secara alami bagi kehidupan manusia. Iri hati pun tak terhindari suasana Desa yang penuh damai berubah menjadi dendam amarah dalam jiwa manusia yang satu terhadap yang lain. Persahabatan berubah menjadi dendam. Alam yang tak berakal Budi mengubah cara pandang manusia. Klaim inipun disematkan manusia pada alam semesta bahwa dia membawa malapetaka. Bukan saja pada tanaman padi milik petani yang sementara menanti panen tapi membawa dendam bagi padi-padi yang satu kepada yang lain, bagi padi yang belum menanti panen terlihat aman tapi bagi yang lain tidak tentunya. Pemiliknya pun ikutan menyimpan iri pada yang lain terutama pada Joni dan petani lainnya yang padinya belum siap panen. Hujan dan angin kencang menembus hingga batas kesabaran pada manusia pun hilang. Di setiap rumah tangga muncul anggapan curiga.

Suatu pagi tak ada matahari suasana mendung menerpa, kicau burung-burung tak terdengar, hanya terdengar angin yang menderu disertai hujan rintik mengejar angin seolah-olah mereka merebut bumi,  dari kejauhan muncul sosok tubuh. Joni yang sudah berada di dalam ladangnya memandangi padinya dengan senyum yang manis. Padinya sudah pada menunduk tanda bulir-bulir padi sawah yang penuh isi yang padat. Sesekali ia meraba bagian bulir itu. Dalam kesunyian pagi itu sahabat karibnya datang, ia bergegas menemuinya. “Ako dari mana saja kau di pagi yang dingin ini”?. Tanya Joni menyambut sahabatnya. “Pusing, pagi ini entah nasib apa yang menimpa, padi dan semua tanamanku sudah pada rubuh ke tanah menjadi satu seperti tikar”. Ako menimpal. Sembari menceritakan keadaannya kepada Joni. Joni tak banyak kata cuman sesekali memberi motivasi agar Ako tetap tenang menghadi keadaan itu.

Dua sahabat itu pun masuk kerumah Joni, tiba-tiba terdengar suara menderu dan hujan mendesir seperti batu yang jatuh dari langit. Pohon tak ada yang kuat menahan badai itu. Seperti biasa kopi dan rokok menemani mereka. Kepulan asap 153 menjadi penyemangat, diikuti tarikan kopi yang nikmat. Hanya suara hujan disertai angin yang kadang mencemaskan. Tak ada orang yang melintasi jalanan depan Joni. Aktifitas warga mendadak macet seperti larangan keluar rumah yang dibisikkan alam kepada setiap makluk hidup. Lebih jahat dari sunyi Corona. “Virus Corona pun tak sedemikan jahat dari ini, bahkan kodok pun takut bersuara”. Ako membuka percakapan. Joni manggut-manggut mendengar. Tatkala hedak menyambung suaranya terhalang oleh setiap kata yang keluar dari mulut sabat karibnya. “Kau beruntung kawan, tahun ini ada harapan yang baik dari tanamanmu”. Ako memuji dengan kecewa. Suara berat itu, membuat suasana makin suram. Tak ada suara hendak diucapkan Joni pada sahabatnya. “Semoga besok badai ini berlalu”. Itulah kata-kata penutup Ako.

Pagi itu suasana mencekam. Badai terus berlanjut, sumur-sumur tumpah penuh air, jalanan digenangi air, rumah-rumah penduduk tergenang air, ada pula rumah yang rubuh akibat angin kencang,  pohon-pohon tumbang menindas jalan dan kebun padi hancur, aktivitas harian warga lumpuh, kodok-kodok tak bersuara, ayam tak berkokok. Hanya suara angin menderu diiringi hujan lebat dan gemuruh ombak seakan menerkam.

Dendam yang tadi membara hilang seketika, terlihat di sebarang sana orang-orang berlarian menolong rumah yang roboh, solidaritas seketika tercipta. Tanpa kecuali Joni dan Ako pun bahu membahu menolong. Begitulah alam, kadang kala membuat kita membenci satu dengan yang lain toh kemudian mendamaikan satu sama lain. Rasa dendam dan iri hati hilang sekejap. Tak ada dendam hanya suara-suara yang meminta badai ini cepat berlalu.

Penulis: Marko Akulas, Petani Desa tinggal di Amfoang

 

 

 

  • Bagikan